Cara Membuat Anak Suka Matematika, Walau Awalnya Benci

Cara membuat anak suka matematika: cari tahu dulu kenapa ia benci, perbaiki dasar yang tertinggal, lalu pakai permainan dan matematika sehari-hari.

Oleh tim Lucky Math · · 6 menit baca

Permainan congklak di sebuah TK, permainan tradisional yang melatih berhitung
Foto: Azizahsong, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Banyak orang tua mencari cara membuat anak suka matematika setelah mendengar kalimat "Aku benci matematika!" di meja belajar. Sebagian besar tips yang beredar langsung menyarankan permainan. Permainan memang membantu, tetapi hasilnya jauh lebih baik kalau Anda tahu dulu kenapa anak tidak suka. Anak yang bosan butuh cara yang berbeda dengan anak yang tertinggal atau takut salah.

Panduan ini dimulai dari pertanyaan itu, lalu memberi permainan, kegiatan sehari-hari, dan rencana satu minggu yang bisa langsung dicoba di rumah.

Kenapa anak bilang benci matematika

Biasanya "benci matematika" berarti salah satu dari ini:

  • Ada dasar yang tertinggal. Anak kelas 3 SD yang masih menghitung jari untuk 7 + 5 akan kewalahan dengan perkalian atau penjumlahan bersusun. Materi baru terasa mustahil karena materi lama belum kuat.
  • Takut salah. Ulangan harian dengan waktu terbatas, coretan merah, atau disuruh maju ke papan tulis bisa membuat matematika terasa seperti tempat untuk dipermalukan.
  • Bosan. Anak yang sudah paham disuruh mengerjakan LKS berlembar-lembar dengan soal yang sama.
  • Meniru orang dewasa. Anak mendengar ketika ayah atau ibunya bilang "Dulu Mama juga nggak bisa matematika."
  • Sesinya terlalu lama. Belajar satu jam setelah sekolah dan les akan membuat siapa pun malas.

Amati anak selama seminggu sebelum mengubah apa pun. Kapan keluhannya muncul? Apakah hanya pada jenis soal tertentu? Apakah ia senang berhitung saat bermain, tapi tidak di buku? Jawabannya menunjukkan langkah mana yang perlu dicoba duluan.

Kalau masalahnya hanya muncul di sekolah, bicara sebentar dengan wali kelas sering menjelaskan banyak hal. Kalau anak masih kesulitan dengan hal yang sangat dasar, seperti membandingkan dua angka atau menghitung benda dengan tepat, jauh melewati usianya, tanyakan ke sekolah tentang asesmen.

Perbaiki dasarnya dulu

Permainan tidak akan lama menutupi dasar yang bolong. Kalau anak tertinggal, mundur satu langkah dan buat langkah itu terasa mudah.

  1. Cari kemampuan terakhir yang sudah lancar. Ajukan beberapa soal lisan, mulai dari yang gampang. Berhenti di tingkat pertama tempat anak ragu atau menebak.
  2. Latih di tingkat itu dan sedikit di bawahnya. Anak yang menjawab benar delapan dari sepuluh soal jauh lebih mau mencoba dua soal sisanya.
  3. Naik sedikit demi sedikit. Kalau tingkat yang sekarang mulai membosankan baginya, itu tanda sudah waktunya naik.

Contohnya, anak yang benci perkalian mungkin belum hafal pasangan bilangan yang jumlahnya 10 (7 dan 3, 6 dan 4). Sepuluh menit sehari selama dua minggu untuk itu bisa lebih mengubah sikapnya daripada permainan perkalian mana pun. Setelah dasarnya kuat, cara cepat hafal perkalian menjelaskan urutan belajarnya.

Permainan matematika tanpa alat

Cocok untuk anak TK sampai kelas 4 SD, cukup 5 sampai 10 menit.

  • Perang dadu. Setiap pemain melempar dua dadu dan menjumlahkannya (atau mengalikannya untuk anak yang lebih besar). Jumlah terbesar menang.
  • Cari sepuluh. Jajarkan kartu remi as sampai 9 dalam posisi terbuka. Bergantian mengambil dua kartu yang jumlahnya 10.
  • Main warung-warungan. Beri harga pada camilan atau mainan, lalu biarkan anak membayar dengan uang receh. Anda memberi kembalian, lalu tukar peran.
  • Tebak angka. Pikirkan satu angka sampai 100. Anak bertanya "Lebih dari 50?" atau "Genap?" sampai ketemu.
  • Congklak. Menghitung biji saat bermain congklak adalah latihan berhitung yang tidak terasa seperti belajar.
  • Lomba dengan diri sendiri. Catat waktu untuk menjawab sepuluh soal mudah, lalu coba kalahkan besok.

Biarkan anak sering menang di awal, dan biarkan ia membuat aturan sendiri. Permainan yang ia rancang lebih sering dimainkan.

Bawa matematika ke kegiatan sehari-hari

Matematika sehari-hari tidak terasa seperti PR, dan sekaligus menjawab pertanyaan "Buat apa sih belajar ini?"

  • Di dapur: menakar bahan kue, menggandakan resep, membagi martabak jadi setengah dan seperempat.
  • Di warung atau minimarket: "Uang kita Rp20.000. Cukup untuk beli dua-duanya?" Biarkan anak yang memegang uang.
  • Di jalan: menjumlahkan angka di pelat nomor, menghitung motor merah, menebak berapa menit lagi sampai.
  • Lewat hobinya: skor sepak bola, balok Minecraft, atau jumlah kelereng. Anak yang suka bola mungkin lebih semangat menghitung selisih gol daripada mengerjakan LKS.

Cukup satu atau dua pertanyaan saat memasak. Kalau setiap jalan-jalan berubah jadi kuis, anak akan merasa diuji.

Ubah cara Anda bicara soal matematika

Daripada Coba
"Ini gampang, kok." "Yang ini perlu dipikir sebentar."
"Mama dulu juga bodoh matematika." "Dulu Mama juga harus banyak latihan."
"Pintar banget kamu!" "Kamu terus mencoba cara lain sampai berhasil."
"Salah itu." "Coba ceritakan cara kamu dapat jawaban itu."
"Cepetan!" "Pelan-pelan saja, Mama tunggu."

Dengan bertanya bagaimana anak mendapat jawabannya, Anda sering langsung melihat letak kesalahannya, dan anak kadang menemukannya sendiri saat menjelaskan. Puji caranya dan usahanya, lebih dari kecepatannya.

Perbandingan kebiasaan yang membuat anak suka matematika dan yang membuatnya makin benci
Sebagian besar yang membantu tidak butuh biaya dan cukup 10 menit.

Rencana satu minggu yang santai

Mulailah kecil. Target minggu ini adalah suasana yang lebih tenang saat belajar matematika, jadi bebannya dibuat ringan.

  1. Hari 1: Tanya, jangan mengajar. Tanyakan apa yang anak suka dan tidak suka dari matematika. Dengarkan saja.
  2. Hari 2: Satu permainan. Perang dadu atau cari sepuluh, lima menit, lalu berhenti saat ia masih senang.
  3. Hari 3: Matematika sehari-hari. Satu pertanyaan di warung atau di dapur.
  4. Hari 4: Cari dasar yang bolong. Beberapa soal lisan dari yang mudah. Catat di mana ia mulai lambat.
  5. Hari 5: Latihan di tingkat yang mudah. Lima menit pada kemampuan tepat sebelum bagian yang bolong.
  6. Hari 6: Anak yang memimpin. Ia memilih atau membuat permainan baru.
  7. Hari 7: Lihat kemajuannya. Sebutkan satu hal yang sekarang bisa ia lakukan dan hari Senin belum bisa. Setelah itu, jaga sesinya tetap pendek. Untuk kebanyakan anak SD, 5 sampai 15 menit sehari sudah cukup. Hadiah kecil karena rutin berlatih bisa membantu di minggu-minggu awal, asalkan diberikan untuk usaha, bukan untuk nilai sempurna.
Rencana tujuh hari supaya anak yang benci matematika mulai merasa lebih mudah
Langkah kecil, suasana senang dulu, dan latihan di tingkat yang bisa dijawab anak.

Kapan aplikasi kuis bisa membantu

Ada anak yang tegang mengerjakan soal di kertas tetapi lebih santai dengan kuis singkat di layar, apalagi kalau ada hal yang ditunggu di akhir. Lucky Math adalah aplikasi iPhone kami untuk itu. Anak mengerjakan kuis singkat, dan nilai yang bagus membuka peti keberuntungan berisi hadiah nyata yang Anda tentukan (ke taman, memilih menu makan malam, stiker). Penjumlahan dan pengurangan gratis. Lucky Math Plus menambahkan perkalian dan pembagian, aplikasi Apple Watch, dan berbagi keluarga, jadi kakak dan adik bisa punya profil sendiri.

Soal kuis Lucky Math di iPhone

Pertanyaan umum

Kenapa anak saya tiba-tiba benci matematika?

Perubahan mendadak sering terjadi setelah materi baru yang bergantung pada kemampuan yang belum benar-benar dikuasai, guru atau kelas yang lebih sulit, ulangan dengan waktu terbatas, atau pengalaman memalukan di depan teman. Tanyakan apa yang terjadi, dan periksa apakah materi tahun lalu sudah kuat.

Apa cara termudah membuat anak suka matematika di rumah?

Permainan singkat dengan dadu atau kartu, 5 sampai 10 menit, di tingkat yang membuat anak bisa menjawab sebagian besar soal dengan benar. Berhenti saat ia masih senang supaya besok ia mau main lagi.

Perlukah anak dipaksa belajar matematika?

Buat rutinitas yang tetap tapi pendek, seperti membaca, dan buat sesinya cukup kecil supaya tidak jadi pertengkaran. Lima menit yang tenang setiap hari lebih berguna daripada satu jam penuh omelan.

Kapan saya perlu khawatir ini lebih dari sekadar tidak suka?

Kalau anak terus kesulitan dengan hal dasar, seperti membandingkan dua angka atau menghitung benda, jauh melewati usianya, atau kalau matematika membuatnya sangat tertekan, bicarakan dengan guru tentang asesmen.